KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN PADA REMAJA; KEKERASAN DALAM BERPACARAN, PERAN ORANGTUA DAN SEKOLAH

  • Dewi Purnamawati Universitas Muhammadiyah Jakarta
  • Virnanda Aritonang Universitas Muhammadiyah Jakarta
Keywords: Kehamilan yang Tidak Diinginkan, Remaja, Kekerasan Berpacaran, Peran Orangtua, Peran Sekolah

Abstract

Perilaku berpacaran berisiko pada remaja menempatkan remaja pada risiko kehamilan yang tidak diinginkan, yang akan berdampak pada kehidupan remaja baik dari secara fisik, psikologi, sosial, dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam kejadian kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomologi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Karawang terhadap 11 orang informan yang dipilih secara purposive. Informan dalam penelitian ini terdiri dari; 1) Remaja yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (hamil pada usia < 17 tahun dan post partum dengan usia < 17 tahun); 2) pasangan  (suami); 3) Orang tua remaja dan 4) Guru. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam dan dianalisis secara konten. Hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa informan mulai berpacaran sejak usia 13-14 tahun dan sudah berganti pacar 3-5 kali. Semua informan, saat pertama kali melakukan hubungan seksual karena dipaksa oleh pacarnya dan merasa takut akan ditinggalkan, informan juga menyesali perilaku seksual yang mereka lakukan dengan pacar, merasa malu, sedih, cemas, takut ketahuan orang tua dan perasaan berdosa. Walaupun tidak siap dengan kehamilannya, semua informan tetap mempertahankan kehamilannya, dan terpaksa harus berhenti sekolah, karena dikeluarkan dan malu. Semua hubungan seksual dilakukan dirumah pacar. Peran orang tua remaja perempuan cukup baik, namun tidak diimbangi dengan informasi dan komunikasi dua arah. Sementara peran orang tua remaja laki-laki dirasa masih kurang dan cenderung memberikan kebebasan. Peran sekolah sudah baik dalam memfasilitasi kegiatan ekstrakulikuler dan edukasi kesehatan reproduksi, namun belum bisa memberikan toleransi kejadian kehamilan diluar nikah, sehingga remaja harus dikeluarkan dari sekolah. Perlu kegiatan edukasi dalam meningkatkan pola asuh orangtua, khususnya orangtua yang memiliki remaja laki-laki dan perlu dipertimbangkan cuti sekolah pada remaja yang mengalami kehamilan yang tidak diharapkan dengan pendampingan , sehingga remaja masih dapat melanjutkan pendidikannya.

References

[1] Pusdatin. Infodatin Reproduksi Remaja-Ed.Pdf [Internet]. Situasi Kesehatan Reproduksi Remaja. 2017. p. 1. Available from: https://www.kemkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/infodatin reproduksi remaja-ed.pdf
[2] Clea M., Blanchard J. A guide to Healthy Adolescent and Development [Internet]. United States of America: Center for Adolescent Health at the Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health; 2009. Available from: https://www.jhsph.edu/research/centers-and-institutes/center-for-adolescent-health/_docs/TTYE-Guide.pdf
[3] Diananda A. Psikologi Remaja Dan Permasalahannya. J ISTIGHNA. 2019;1(1):116–33.
[4] Sharlene Gale SWL. Chapter • January 2012. In: J H, editor. ADOLESCENCE In book: Child and adolescent development: A South African sociocultural perspective [Internet]. Oxford University Press; 2016. p. 203–44. Available from: https://www.researchgate.net/publication/301687781_Adolescence
[5] BKKBN. Survei Demografi Dan Kesehatan : Kesehatan Reproduksi Remaja 2017. Badan Kependud dan Kel Berencana Nas [Internet]. 2017;1–606. Available from: http://www.dhsprogram.com.
[6] WHO. Preventing unsafe abortion [Internet]. World Health Organisation. 2016. p. 1–5. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs388/en/
[7] Farida Y. Hubungan Pengetahuan, Status Sosial Ekonomi, Pola Asuh Orang Tua, Paparan Pornografi Dengan Perilaku Seksual Remaja. J Kebidanan. 2016;18–29.
[8] Susiana S. Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan di Ruang Publik. Info Singk Kesejaht Sos. 2012;IV(04):10.
[9] Putriarsih R, Budihastuti UR, Murti B. Prevalence and Determinants of Postpartum Depression in Sukoharjo District, Central Java. J Matern Child Heal. 2017;03(01):395–408.
[10] Amalia EH, Azinar M. Kehamilan Tidak Diinginkan Pada Remaja. HIGEIAJournal Public Heal Res Dev. 2017;1(1):1–7.
[11] Ismarwati I, Utami I. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Kehamilan Tidak Diinginkan Pada Remaja. J Heal Stud. 2017;1(2):168–77.
[12] Rusmilawaty, Yuniarti, Tunggal T. Communication of parents, sexual content intake and teenage sexual behavior at senior high school in Banjarmasin City. Kesmas. 2016;10(3):113–9.
[13] Guilamo-ramos BV, Ph D, Bouris A, Kean TH, Brown SS, Sanger SW, et al. Parent-Adolescent Communication about Sex in Latino Families : A Guide for Practitioners The National Campaign to Prevent Teen and Unplanned Pregnancy Board of Directors Chairman. 2008;(January).
[14] Purnama FH, Raharjo ST. Peran sekolah dan perilaku remaja. Pros Penelit Pengabdi Kpd Masy. 2018;5(3):205–13.
[15] Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi. PP No. 61 Th 2014 ttg Kesehatan Reproduksi.pdf [Internet]. Peraturan Pemerintah. 2014. Available from: http://kesga.kemkes.go.id/images/pedoman/PP No. 61 Th 2014 ttg Kesehatan Reproduksi.pdf
Published
2021-01-17