KONDISI SOSIO DEMOGRAFI DAN STATUS GIZI BADUTA DI PROVINSI PAPUA BARAT

  • Apriliani Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Nur Fadhilah Hasanah Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Rani Elviyanti Siregar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Sarah Fadhila Siregar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Putra Apriadi Siregar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Keywords: Bayi; Gizi buruk;Pendek; Sosiodemografi

Abstract

Indonesia menjadi salah satu negara dengan IPKM (Indek Pembangunan Kesehatan Masyarakat) yang rendah di negara Asia. Banyaknya terjadi malnutrisi (gizi buruk dan pendek) menjadi salah satu yang berperan terhadap rendahnya IPKM di Indonesia. Provinsi Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur dan Maluku menjadi provinsi dengan IPKM terendah dan memiliki kasus malnutrisi yang tinggi di Indonesia. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui kondisi sosio demografi dan status gizi Baduta di Provinsi Papua Barat. Penelitian ini menggunakan metode survei berskala nasional dengan desain cross sectional. Survei dilaksanakan di 13 kabupaten di Provinsi Papua Barat. Sampel penelitian ini sebanyak 159 bayi usia 0-23 bulan. Pengukuran menggunakan antropometri dengan BB/U dan TB/U. Analisis data menggunakan analisis deskriftif tabulasi silang. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 4,98% bayi menderita gizi buruk, bayi menderita gizi kurang sebanyak 13,44% dan bayi gizi normal sebanyak 87,26%. Bayi lahir pendek sebanyak 23,75%, bayi lahir sangat pendek sebanyak 14,04% dan bayi lahir normal sebanyak 81,45%. Mayoritas bayi memiliki gizi buruk berjenis kelamin laki-laki sebanyak 4,65% dan bayi lahir pendek berjenis kelamin laki-laki sebanyak 19,02%. Mayoritas bayi memiliki gizi buruk dengan pendidikan orang tua tidak tamat SD/MI sebanyak 5,60% dan bayi lahir pendek dengan pendidikan orang tua Tamat SLTP/MTS sebanyak 32,48%. Mayoritas bayi menderita gizi buruk dengan pekerjaan orang tua tidak bekerja sebanyak 6,78% dan bayi lahir pendek dengan pekerjaan nelayan sebanyak 27,01%. Mayoritas bayi yang memiliki gizi buruk berada di pedesaan sebanyak 5,12% dan bayi bayi lahir pendek berada di perkotaan sebanyak 18,15%. Kasus Gizi buruk dan lahir pendek terjadi pada bayi dengan kondisi sosiodemografi dengan jenis kelamin laki-laki, pendidikan orangtua rendah, memiliki pekerjaan dan tinggal di pedesaan. Petugas kesehatan harus memberikan edukasi kepada ibu yang memiliki pendidikan rendah tentang pola konsumsi makan dan pola asuh agar menurunkan kejadian gizi buruk dan anak pendek.

References

[1] UNICEF. The State of the World’s Children 2019. Children, Food and Nutrition: Growing well in a changing world [Internet]. 4 p. Available from: www.unicef.org
[2] WHO. Levels And Trends In Child Malnutrition [Internet]. WHO. 2017. Available from: https://www.who.int/nutgrowthdb/jme_brochoure2017.
[3] Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar [Internet].2013.Available from: https://www.kemkes.go.id/resources/download/general/HasiRiskesdas2013.pdf
[4] Kementerian Kesehatan RI. Laporan Riskesdas 2018 [Internet].2018.Available from: https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/hasil-riskesdas 2018.pdf.doi:10.1017/CBO9781107415324.004.
[5] BPS. Statistik Indonesia 2019 [Internet]. BPS, 2019 (Indonesian statistics). 2019. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Available from: https://www.bps.go.id/publication/2019/07/04/statistik-indonesia-2019.html.
[6] Diniyyah SR, Nindya TS. Asupan Energi, Protein dan Lemak dengan Kejadian Gizi Kurang pada Balita Usia 24-59 Bulan di Desa Suci, Gresik. Amerta Nutr. 2017;1(4):341. doi:10.20473/amnt.v1i4.7139.
[7] Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2014 [Internet]. 2014. Available from: https://www.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2014.pdf.
[8] Galgamuwa LS, Iddawela D, Dharmaratne SD, Galgamuwa GLS. Nutritional status and correlated socio-economic factors among preschool and school children in plantation communities, Sri Lanka. BMC Public Health. 2017;17(1):1–11.doi:10.1186/s12889-017-4311-y.
[9] Azrimaidaliza. Karakteristik Dan Status Gizi anak Umur 6-24 Bulan Didaerah Kumuh perkotaan Jakarta. J Kesehat Masy. 2010;4(1):27–31.
[10] Lestari ND. Analisis Determinan Status Gizi Balita di Yogyakarta. Mutiara Med J Kesehat dan Kedokt [Internet]. 2015;15(1):21-7.doi:10.18196/mmjkk.v15i1.2490.
[11] Christin Angelina F AAPH. Faktor Kejadian Stunting Balita Berusia 6-23 Bulan Di Provinsi Lampung. J Dunia Kesmas. 2018;7(3):127–34.doi:10.33024/jdk.v7i3.507.
[12] Konstantin T, Tantular IS, Athiyyah AF, Rossyanti L. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Status Gizi Siswa Sekolah Dasar. JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan). 2020;3(2):46–50.doi:10.33006/ji-kes.v3i2.135.
[13] Ria Helda Pratiwi, Suyatno RA. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Beratkurang (Underweight) Pada Balita Di Perkotaan Dan Perdesaan Indonesia Berdasarkan Data Riskesdas Tahun 2013. J Kesehat Masy. 2015;3(2):127–37.
[14] Rahmad AH Al. Malnutrisi Pada Balita Pedesaan Dengan Perkotaan Berdasarkan Karakteristik Keluarga : Data Psg 2015 Malnutrition A Toddler Rural And Urban Areas Based Family Characteristics : Mns 2015. Idea Nurs J. 2016;VII(2):43–52.
[15] Hanifah RN, Djais JTB, Fatimah SN. Prevalensi Underweight, Stunting, dan Wasting pada Anak Usia 12-18 Bulan di Kecamatan Jatinangor. Jsk [Internet]. 2020;5(3):3–7. doi:10.24198/jsk.v5i3.28768.
[16] Muljati S, Budiman B. Risiko Underweight pada balita terakhir di Rumah Tangga. Nutr Res Dev. 2008;1(24):1–8.doi:10.33476/jky.v16i2.243.
[17] 17. Hidayat MS. Prevalensi Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Sidemen Karangasem. E-Jurnal Med [Internet]. 2017;6(7):1–5.
[18] Wellina WF, Kartasurya MI, Rahfilludin MZ. Faktor risiko stunting pada anak usia 6 - 12 bulan. J Gizi Indones [Internet]. 2016;5(1):55–61.doi:10.14710/jgi.5.1.55-61.
[19] Rahmawati I, Utami I, Lestari S. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gizi Kurang Pada Balita Usia 12-59 Bulan Di Desa Srimartani. 2019;5(1):1–6. Available from:http://digilib2.unisayogya.ac.id/handle/123456789/741.
[20] Tsaralatifah R. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Kelurahan Ampel Kota Surabaya. Amerta Nutr. 2020;4(2):171. doi:10.20473/amnt.v4i2.2020.171-177.
[21] Setyawati VAV. Kajian Stunting Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin Di Kota Semarang. 7th Univ Res Colloqium 2018 [Internet].2018;834–8.Available from:http://repository.urecol.org/index.php/proceeding/article/view/273.
[22] Rosha BC, Hardinsyah, Baliwati YF. Analisis Determinan Stunting Anak 0-23 Bulan pada Daerah Miskin di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penel Gizi Makan [Internet]. 2012;35(1):34–41. Available from: https://media.neliti.com/media/publications/223475-none.pdf.
[23] Wahyudi BF, Sriyono, Indarwati R. Analisis Faktor yang Berkaitan dengan Kasus Gizi Buruk pada Balita. J Pediomaternal [Internet].2015;3(1):86.Available from: journal.unair.ac.id/download-fullpapers-pmnjf19af4e326full.docx
[24] Rahayu A et al. Risiko Pendidikan Ibu Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak 6-23 Bulan (Maternal Education As Risk Factor Stunting Of Child 6-23 Months-Old). J Nutr food Res. 2014;37(Ci):129–36.
[25] Lukitawati N. Hubungan Antara Status Pekerjaan Orang Tua Dengan Status Gizi Balita Usia 1-5 Tahun Di Desa Jatisarono Nanggulan Kulon Progo Yogyakarta. Hub Antara Status Pekerj Orang Tua Dengan Status Gizi Balita Usia 1-5 Tahun Di Desa Jatisarono Nanggulan Kulon Progo Yogyakarta [Internet]. 2010;1–10. Available from: http://digilib.unisayogya.ac.id/1773/.
[26] Kristianti D, Suriadi, Parjo. Hubungan Antara Karakteristik Pekerjaan Ibu Dengan Status Gizi Anak Usia 4-6 Tahun Di TK Salomo Pontianak. J Keperawatan [Internet]. 2013;3(1):1–6. Available from: http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmkeperawatanFK/article/view/3804/3807.
[27] Amin NA, Julia M. Faktor sosiodemografi dan tinggi badan orang tua serta hubungannya dengan kejadian stunting pada balita usia 6-23 bulan. J Gizi dan Diet Indones (Indonesian J Nutr Diet. 2016;2(3):170.doi:10.21927/ijnd.2014.2(3).170-177.
[28] Rachel. Hubungan Konsumsi Ikan,Tingkat Kecukupan Protein, Higiene dan Sanitasi dengan Kejadian Stunting pada Balita Keluarga Nelayan di Desa Perlis [Internet]. 2020. Available from: http://repositori.usu.ac.id/.
[29] Rodríguez L, Cervantes E, Ortiz R. Malnutrition and gastrointestinal and respiratory infections in children: a public health problem. Int J Environ Res Public Health. 2011;8(4):1174–205. doi:10.3390/ijerph8041174.
[30] Lusita, A.P., Suyatno, S., & Rahfiludin MZ. Perbedaan Karakteristik Balita Stunting Di Pedesaan Dan Perkotaan Tahun 2017 (Studi Pada Anak Usia 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Gabus Ii Dan Wilayah Kerja Puskesmas Pati Ii Kabupaten Pati). J Kesehat Masy [Internet].2017;5(4):60012.Availablefrom:https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm/article/view/18724.
Published
2021-01-17