POTRET ADAPTASI DAN INOVASI LAYANAN GIZI DI MASA PANDEMI COVID-19: STUDI KASUS DI 8 KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA

  • Prastuti Soewondo Universitas Indonesia
  • Gita Maya Koemara Sakti Universitas Indonesia
  • Dwi Oktiana Irawati Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
  • Retno Pujisubekti Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
  • Nurul Maretia Rahmayanti Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
  • Adwin Haryo Indrawan Sumartono Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
  • Mira Nurfitriyani Universitas Indonesia
Keywords: Gizi, TTD, Puskesmas, posyandu, kader

Abstract

Pandemi COVID-19 dan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berdampak pada keberlangsungan upaya kesehatan masyarakat di Posyandu khususnya upaya perbaikan gizi bayi, balita, ibu hamil, dan remaja putri. Studi ini bertujuan untuk memotret proses adaptasi serta inovasi program gizi di masa pandemi.  Studi kualitatif menghimpun informasi melalui diskusi kelompok terpumpun dengan pemangku kepentingan di lokasi studi serta perpektif dari tingkat pusat. Lokasi studi dipilih dengan teknik purposive sampling mempertimbangkan jumlah kasus COVID-19 terbanyak. Tambahan telaah literatur kebijakan dan artikel ilmiah digunakan untuk memperkuat informasi yang ada. Data dianalisis melalui komparasi antar lokasi studi. Panduan layanan Gizi bagi Tenaga Kesehatan di masa Pandemik COVID-19 terbit di bulan Mei 2020 dan kegiatan Posyandu nyaris terhenti. Seluruh kabupaten/kota menyatakan ketersediaan makanan tambahan maupun tablet tambah darah (TTD) masih cukup. Puskesmas melakukan adaptasi layanan luar ruang dengan bantuan teknologi dan optimalisasi peran kader. Semenjak pandemik, kader melakukan monitoring status gizi, mendistribusikan makanan tambahan, dan melaporkan kasus kepada bidan desa atau petugas puskesmas.  Kebijakan penutupan sekolah juga telah menghambat pemberian TTD untuk remaja putri. Tujuh kabupaten/kota pada saat penelitian melaporkan belum melanjutkan pemberian TTD dan masih menyusun strategi inovasi pemberian TTD remaja putri. Satu kabupaten melaporkan penggunaan pesan singkat untuk mengingatkan remaja meminum TTD meski belum mengetahui bagaimana mengukur efektifitasnya. Kabupaten/kota telah mengikuti arahan panduan Kementerian Kesehatan dalam implementasi program gizi. Walau logistik bahan dan material tersedia, namun metode pemberian dan monitoring program sangat bergantung pada kader dan dikhawatirkan berdampak pada efektifitas hasil akhir program. Tata kelola pada masa pandemi memang lebih dikendalikan oleh pemerintah pusat. Diperlukan kejelasan, dukungan bimbingan teknis, insentif, dan proteksi diri bagi kader agar mampu membantu pelaksanaan pelayanan gizi di masyarakat dengan lebih optimal.

References

[1] Kementerian Kesehatan dan UNICEF. Rapid Health Assessment: Ensuring for Children and Mothers During the COVID-19 Pandemic in Indonesia. UNICEF dan Kementerian Kesehatan RI, 2020.
[2] Kodish SR, Bio F, Oemcke R, Conteh J, Beauliere JM, Pyne-Bailey S, et al. (2019) A qualitative study to understand how Ebola Virus Disease affected nutrition in Sierra Leone – A food value-chain framework for improving future response strategies. PLoS Negl Trop Dis 13(9):e0007645. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0007645
[3] Ververs, M. and Arya, A. (2019) Ebola virus disease and breastfeeding: time for attention. Correspondence. The Lancet, published online: August 27, 2019 http://dx.doi.org/10.1016/S0140-6736(19)32005-7
[4] Kementerian PPN/Bappenas. Rancangan Teknokratik RPJMN 2020 – 2024.
[5] Atun R., Coker, R. J. et al. (2007) Systematic Rapid Assessment Toolkit (SYSRA): A toolkit for rapid assessment of health systems and tuberculosis control. Advisory Group on Health Systems Development, Division of Country Support, World Health Organisation European Regional Office.
[6] Roberts, M., Hsiao, W., Berman, P., & Reich, M. (2008). Getting health reform right: a guide to improving performance and equity. Oxford University Press.
[7] WHO. (2007). Everybody's business--strengthening health systems to improve health outcomes: WHO's framework for action.
[8] Kementerian Kesehatan – Direktorat Gizi Masyarakat. Pedoman Pelayanan Gizi Pada Masa Tanggap Darurat untuk Tenaga Kesehatan. Kementerian Kesehatan, 2020
[9] Fallah, F, Ahmad Pourabbas, et al. Effects of Nutrition Education on Levels of Nutritional Awareness of Pregnant Women in Western Iran. International Journal of Endocrinology and Metabolism. 2013 Summer, II(3):175-178. Published Online 2013 July 01.
[10] Saeidlou, Sakineh Nouri et al. Nutritional Knowledge, Attitude and Practice of North West Households in Iran: Is Knowledge likely to become practice?. Maedica-a Journal of Clinical Medicine, 2016; 11(4): 286-295.
[11] Ng., C. D. (2019). Biases in self-reported height and weight measurements and their effects on modelling health outcomes, SSM-Population Health 7, 2019.
[12] Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan. Laporan Kinerja Pusat Data dan Informasi Tahun Anggaran 2019. Kementerian Kesehatan, Januari 2020.
Published
2021-01-17