MENGUAK KEBUTUHAN KONTRASEPSI MASYARAKAT SUKU LAUT: SUATU PERJUANGAN MEMPEROLEH KESETARAAN LAYANAN HAK REPRODUKSI

  • Wahyu Utomo Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
  • Robani Catursaptani Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
  • Rahmadewi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
  • Dian Kristiani Irawaty Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Keywords: Suku Laut, hak reproduksi, kontrasepsi.

Abstract

Suku Laut (Sea Nomads) merupakan suatu komunitas pribumi yang selalu berpindah-pindah, terkonsentrasi di sekitar Selat Malaka, Selat Philip, dan Laut Cina Selatan, wilayah Kepulauan Riau, Indonesia. Kebiasaan mereka yang selalu berpindah-pindah tempat menyulitkan mereka untuk mendapatkan layanan kesehatan reproduksi, khususnya akses terhadap kontrasepsi. Kurangnya data maupun informasi mengenai kebutuhan kesehatan reproduksi pada Suku Laut juga membuat kebutuhan mereka kurang diperhatikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui usia pertama menikah, jumlah anak ideal, pengalaman anak yang dilahirkan meninggal, sumber informasi keluarga berencana (KB), dan akses layanan kontrasepsi. Penelitian kuantitatif dilakukan melalui wawancara terstruktur terhadap responden perempuan Suku Laut yang pernah kawin umur 15-49 tahun pada bulan Juni sampai Agustus 2016. Mengingat jumlah responden Suku Laut sangat kecil sehingga infomasi lebih mendalam diperoleh melalui pengumpulan data kualitatif melalui wawancara terhadap petugas KB, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan kader KB. Sekitar 69,4% responden wanita Suku Laut lebih banyak menikah dibawah umur 20 tahun. Sekitar 57,6% responden menyatakan ingin memiliki anak sama dengan atau kurang dari 2 orang anak. 32,9% responden mengaku mempunyai pengalaman anak yang dilahirkannya meninggal. Sebagian besar responden menyatakan kurang mendapatkan informasi mengenai KB. Sekitar 70% responden menyatakan menggunakan kontrasepsi pil dan suntik KB. Padahal perilaku Suku Laut yang selalu berpindah-pindah tempat akan menyulitkan mereka mendapatkan kontrasepsi pil dan suntik KB secara teratur. Temuan ini memperlihatkan bahwa terdapat kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi baik dari sisi kebutuhan mengenai informasi berbagai jenis alat kontrasepsi maupun akses layanan metoda kontrasepsi jangka panjang. Sumber informasi mengenai KB pada wanita Suku Laut sangat terbatas sehingga mereka hanya menggunakan jenis kontrasepsi yang mudah digunakan yaitu pil dan suntik KB. Mengingat pola perilaku mereka yang selalu berpindah tempat, penelitian ini menyarankan perlunya informasi mengenai berbagai jenis Metoda Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) serta pemberian layanan MKJP secara gratis untuk mereka.

References

Hatton TJ, Sparrow R, Suryadarma D, Eng P van der. Fertility and the health of children in Indonesia. Econ Hum Biol. 2018;28:67–78.
[2] Davis K, Blake J. Social Structure and Fertility: An Analytic Framework. Econ Dev Cult Change. 1956;
[3] Bongaarts J. A Framework for Analyzing the Proximate Determinants of Fertility. Popul Dev Rev [Internet]. 1978;4(1):105. Available from: http://www.jstor.org/stable/1972149?origin=crossref
[4] Freedman R. The Sociology of Human Fertility: An Annotated Bibliography. Popul Dev Rev. 1976;
[5] Leibenstein H. An Interpretation of the Economic Theory of Fertility: Promising Path or Blind Alley? J Econ Lit. 1974;
[6] Daws G, Fujita M, Sawhill JC, Wilson EO. Archipelago : Islands of Indonesia. University of California Press. 1999. 1–266 p.
[7] Luti I, Hasanbasri M, Lazuardi L. Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Meningkatkan Sistem Rujukan Kesehatan Daerah Kepulauan Di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau. J Kebijak Kesehat Indones. 2012;01(01):24–35.
[8] Raharja MB. Fertilitas Menurut Etnis Di Indonesia: Analisis Data Sensus Penduduk 2010. J Kependud Indones. 2017;12(1):69.
[9] Khanna T, Chandra M, Singh A, Mehra S. Why ethnicity and gender matters for fertility intention among married young people: a baseline evaluation from a gender transformative intervention in rural India. Reprod Heal. 2018;15(1):63.
[10] Nobles J, Buttenheim A. Marriage and Socioeconomic Change in Contemporary Indonesia. J Marriage Fam. 2008;70(4):904–18.
[11] Triningsih A. Masalah Demografi dan Kebijakan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau ( the Demographic Problems and the Government Policies of the Riau Islands Province ). J Kependud Indones. 2013;8(2):65–78.
[12] Triningsih A. Masalah Demografis dan Kebijakan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. J Kependud Indones. 2013;8(2):65–77.
[13] Rahmawati A. Kehidupan Suku Laut di Batam : Sebuah Fenomena Kebijakan Pembangunan di Pulau Bertam Kota Batam. SHARE Soc Work J. 2014;4(1).
[14] Rominski SD, Stephenson R. Toward a New Definition of Unmet Need for Contraception. Stud Fam Plann. 2019;50(2):195–8.
[15] Colquitt CW, Martin TS. Contraceptive Methods. J Pharm Pr. 2017;30(1):130–5.
[16] Amran Y, Nasir NM, Dachlia D, Yelda F, Utomo B, Ariawan I, et al. Perceptions of Contraception and Patterns of Switching Contraceptive Methods Among Family-planning Acceptors in West Nusa Tenggara, Indonesia. J Prev Med Public Heal. 2019;52(4):258–64.
[17] Dragoman M V. The combined oral contraceptive pill -- recent developments, risks and benefits. Best Pr Res Clin Obs Gynaecol. 2014;28(6):825–34.
[18] Tracy EE. Contraception: Menarche to Menopause. Obs Gynecol Clin North Am. 2017;44(2):143–58.
[19] Amran Y. Pengetahuan dan Persepsi Penggunaan Alat Kontrasepsi serta Pola Penggantian Metode Kontrasepsi pada Perempuan Akseptor Keluarga Berencana di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat [Disertasi]. Universitas Indonesia; 2018.
[20] Weaver EH, Frankenberg E, Fried BJ, Thomas D, Stephanie B, Paul JE. Effect of Village Midwife Program on Contraceptive Prevalence and Method Choice in Indonesia. Stud Fam Plann. 2013;44(4):389–409.
[21] Irawaty D, Yasin S, Pratomo H. Family Planning Communication between Wives and Husbands: Insights from the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey. Kesmas Natl Public Heal J. 2020;15(3).
[22] Belay AD, Mengesha ZB, Woldegebriel MK, Gelaw YA. Married women’s decision making power on family planning use and associated factors in Mizan-Aman, South Ethiopia: a cross sectional study. BMC Womens Heal. 2016;16(12).
Published
2021-01-17