STUDI KOMPARATIF PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA DI PERDESAAN DAN PERKOTAAN

  • Sri Lilestina Nasution Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
  • Sari Kistiana Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
  • Maria Gayatri Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
  • Desy Nuri Fajarningtiyas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
  • Resti Pujihasvuty Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
  • Margareth Maya Parulianta Naibaho Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Keywords: Kesehatan Reproduksi Remaja, Masa Subur, HIV-AIDS, NAPZA, Remaja

Abstract

Masih rendahnya pemahaman dan kesadaran remaja terhadap kesehatan reproduksi merupakan salah satu permasalahan kesehatan reproduksi remaja (KRR) di Indonesia. Hal ini terlihat dari tingginya perilaku seks pranikah di sebagian remaja yang berakibat pada kehamilan yang tidak diinginkan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan KRR pada remaja di perdesaan dan perkotaan. Studi ini menggunakan  data  sekunder  Survei  Kinerja Akuntabilitas Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (SKAP) 2019 yang dirancang untuk menghasilkan estimasi parameter level provinsi dan nasional. Unit analisis adalah remaja usia 10-24 tahun yang belum  menikah di seluruh Indonesia dengan jumlah sampel 41.582 responden remaja. Analisis dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji independen t-test. Analisis deskriptif untuk mengetahui karakteristik remaja (umur, jenis kelamin, pendidikan, status ekonomi) pada setiap pengetahuan KRR remaja di perkotaan maupun di perdesaan. Uji independen t-test digunakan untuk melihat perbedaan pengetahuan KRR remaja di perkotaan maupun di perdesaan. Pengetahuan KRR pada studi ini mencakup pengetahuan masa subur, pengetahuan umur sebaiknya menikah, pengetahuan HIV-IMS serta pengetahuan NAPZA. Karakteristik responden menunjukkan pola yang sama antara remaja di perkotaan dan perdesaan. Berdasarkan karakteristik, mayoritas remaja berusia muda 10-14 tahun, berjenis kelamin laki-laki, berpendidikan tinggi dengan status ekonomi menengah, dan mendapatkan informasi KRR dari media massa dan guru/teman. Hasil studi ini menunjukkan remaja yang tinggal di perkotaan memiliki pengetahuan KRR lebih baik dibandingkan remaja di perdesaan pada semua aspek pengetahuan. Nilai indeks pengetahuan masa subur merupakan pengetahuan yang paling rendah diketahui oleh remaja baik di perkotaan (20,4) maupun di perdesaan (18,1). Sementara pengetahuan remaja tentang NAPZA sudah sangat baik dengan nilai indeks pengetahuan Napza di perkotaan 89,3 dan perdesaan 84,1. Selanjutnya, hasil uji independen t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada pengetahuan KRR antara remaja di perkotaan dan perdesaan (pengetahuan masa subur t-hitung= 9,6, p<0,001; pengetahuan umur sebaiknya menikah t-hitung= 20,4, p<0,001; pengetahuan HIV-IMS t-hitung= 22,4, p<0,001; pengetahuan NAPZA t-hitung=15,8, p<0,001). Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman KRR bagi remaja diantaranya perlu strategi perbaikan akses informasi KRR terutama informasi masa subur bagi remaja. Akses melalui media luar perlu lebih diperbanyak selain utamanya akses melaluijaringan internet. 

References

[1] Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik. Survey Kinerja dan Akuntabilitas Program KKBPK (SKAP) Keluarga Tahun 2019. Jakarta: Puslitbang KB dan KS, BKKBN; 2019.
[2] Gubhaju BB. Adolescent Reproductive Health in Asia. In: the 2002 IUSSP Regional Population Conference “South-East Asia’s Population in a Changing Asian Context.” Bangkok, Thailand; 2002.
[3] UNFPA. The State of the World Population 2007: Unleashing the potential of urban growth. Indian Pediatrics. New York: UNFPA; 2007.
[4] Lydié N, Robinson NJ, Ferry B, Akam E, De Loenzien M, Zekeng L, et al. Adolescent sexuality and the HIV epidemic in Yaoundé, Cameroon. J Biosoc Sci. 2004;36(5):597–616.
[5] Utomo ID, McDonald P. Adolescent reproductive health in Indonesia: Contested values and policy inaction. Stud Fam Plann. 2009;40(2):133–46.
[6] Kotecha P V., Patel S V., Mazumdar VS, Baxi RK, Misra S, Diwanji M, et al. Reproductive health awareness among urban school going adolescents in Vadodara city. Indian J Psychiatry. 2012;54(4):344–8.
[7] I P, Shaluhiyah, ZahrohWidyastari DA, Isarabhakd. " Women Won’T Get Pregnant With One Sexual Intercourse " Misconceptions in Reproductive Health Knowledge Among Indonesian Young Men. J Heal Res  [Internet]. 2015;29(1):63–9. Available from: http://www.jhealthres.org
[8] Nasution SL, Puspitawati H, Rizkillah R, Puspitasari MD. Pengaruh Pengetahuan Remaja tentang NAPZA dan HIV serta Pengetahuan Orang Tua tentang Program Pembangunan Keluarga terhadap Perilaku Penggunaan NAPZA pada Remaja. J Ilmu Kel dan Konsum. 2019;12(2):100–13.
[9] Kumar P, Saxena S, Gupta SB, Agarwal N, Imtiaz D. A comparative study of knowledge regarding reproductive health among rural & urban adolescent girls in district Bareilly. Natl J Community Med. 2019;10(4):212–7.
[10] Guse K, Levine D, Martins S, Lira A, Gaarde J, Westmorland W, et al. Interventions using new digital media to improve adolescent sexual health: A systematic review. J Adolesc Heal [Internet]. 2012;51(6):535–43. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.jadohealth.2012.03.014
Published
2021-01-17